PENILAIAN KELAS

10 Desember, 2009

Ringkasan Bab IV Mata Kuliah Asesmen Pendidikan

Penilaian di kelas dapat terjadi dan atau dilakukan pada setiap waktu. Tanggung jawab guru adalah untuk menggunakan pengalaman mengajar penuh arti sebagai pengalaman penilaian yang penuh arti pula. Seperti yang dikatakan oleh Hein dan Price (1994) menyatakan bahwa, apapun yang dikerjakan seorang siswa dalam kelas dapat digunakan untuk objek penilaian. Penilaian yang efektif dapat memperbaiki kegiatan belajar dan mengajar. Sehingga penilaian menjadi suatu fokus yang berkelanjutan dalam kelas, sama sekali tidak dapat dibedakan dan dipisahkan dari pengajaran dan kurikulum. Suatu pandangan tentang standar penilaian dan pembelajaran merupakan dua sisi mata uang yang sama dan penting bagi semua siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih tinggi di dalam belajar.

Berdasarkan tujuan, maka penilaian kelas terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu:

1. Penilaian Formatif (formative assessment)

Penilaian formatif merupakan penilaian yang menyediakan informasi kepada siswa dan guru untuk digunakan dalam memperbaiki kegiatan belajar dan mengajar. Hal ini sering dilaksanakan secara informal dan berkelanjutan, meski mereka tidak menyadarinya. Data-data dari penilaian-penilaian sumatif dapat digunakan dalam langkah formatif (Atkin, Black, & Coffey, 2000).

Penilaian formatif yang dirancang secara terencana, terarah dan terstruktur sebagai bagian dari pembelajaran, maka dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Atkin, Black, & Coffey, (2000) memberikan ciri-ciri penilaian formatif dalam bentuk pertanyaan berikut:

- Kemana tujuan anda?

- Dimana anda sekarang?

- Apa yang anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut?

Setelah menyikapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebagai suatu panduan, penting untuk dicatat bahwa tidak satupun blueprint atau model terbaik untuk menggunakan penilaian sebagai alat, terutama sekali untuk mendukung dan memudahkan pelajaran siswa. Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut disediakan sebagai suatu kerangka untuk meraih penilaian yang manjur.

Stiggins (2001), menyarankan kepada para guru untuk memperhatikan hal-hal berikut dalam merencanakan penilaian kelas, dimana kelima hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kelima hal tersebut yaitu:

a. Penguasaan isi pengetahuan, termasuk mengetahui dan mengerti.

b. Penggunaan pengetahuan untuk memberi alasan dan memecahkan permasalahan.

c. Pengembangan keterampilan

d. Pengembangan kemampuan untuk menciptakan produk-produk tertentu yang memenuhi standar.

e. Pengembangan tentang pentingnya pengaturan atau penempatan.

Para guru dapat menggunakan data penilaian untuk membuat keputusan-keputusan yang menyangkut:

- Kelayakan pengembangan dari isi

- Ketertarikan siswa akan isi pelajaran

- Efektivitas dari kegiatan pelajaran dalam menghasilkan hasil belajar yang diharapkan

- Efektivitas dari pemberian contoh-contoh

- Pemahaman dan kemampuan siswa harus dipergunakan sejak memilih kegiatan dan contoh-contoh.

2. Penilaian Sumatif (assessment of learning)

Anderson (2003), menyatakan bahwa penilaian adalah proses dari pengukuran informasi guna membuat keputusan. Kemudian Popham (1995:3) mempertegas bahwa “educational assesment is a formal attempt to determine students’ status with respect to educational variables of interest”. Penilaian juga memiliki terminologi khusus guna mendeskripsikan sekalian aktivitas yang dikerjakan oleh pengajar untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari para pembelajar. Pengumpulan data dari penilaian formal (tes obyektif) dan data informal (observasi atau daftar isian) termasuk aktivitas penilaian ini (Marsh, 1996).

Uba dan Freed (2000) mendefinisikan penilaian sebagai proses dari pengumpulan dan pengujian informasi untuk meningkatkan kejelasan pengertian tentang apa yang sudah dipelajari oleh pembelajar dari pengalaman-pengalamannya.

Popham (1995) memberikan alasan perlunya melakukan penilaian, yaitu penilaian berfungsi untuk:

1. Mendiagnosa kekuatan dan kelemahan pembelajar.

2. Memantau kemajuan belajar.

3. Memberi atribut pemberian nilai.

4. Menentukan efektivitas pengajaran

Herman, Aschbacher, dan Winters (1992) menyatakan dua tujuan yang paling dasar dalam melakukan penilaian yaitu:

1. Menentukan sejauh mana pembelajar telah menguasai pengetahuan khusus atau ketrampilan-ketrampilan (content goal).

2. Mendiagnosa kelemahan dan kelebihan pembelajar dan merancang pembelajaran yang sesuai (process goals).

Penilaian sumatif (assessment of learning) merupakan jenis penilaian yang orientasinya adalah pengumpulan informasi tentang pembelajaran pada rentang waktu tertentu atau pada akhir suatu unit pelajaran. Penilaian sumatif dilakukan pada akhir semester atau unit instruksional untuk menilai kualitas dan kuantitas akhir pencapaian belajar siswa atau kesuksesan dari program instruksional (Weeben, Winter, dan Beroadfood: 2002).

Sehubungan dengan defenisi di atas, penilaian sumatif lebih menekankan pada hasil dan dilaksanakan satu kali untuk satu semester atau setiap akhir dari suatu program instruksional. Peranan guru dan tes eksternal yang terstandarisasi menjadi sangat penting, sehingga validitas dan reliabilitas instrument penilaian harus terpenuhi. Hasil penilaian sumatif ini berfungsi untuk grading clacement, promotion, dan accountability. Penilaian jenis ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Dalam hal motivasi, penilaian jenis ini sangat menguntungkan bagi siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi. Sebaliknya, bagi siswa yang memperoleh prestasi yang rendah akan memiliki motivasi yang rendah yaitu rasa pesimis.

3. Penilaian Untuk Belajar (assessment for learning)

Penilaian untuk belajar pada dasarnya adalah penilaian formatif yang dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan tujuan penilaian formatif secara benar. Penilaian untuk belajar muncul sebagai akibat kegagalan pelaksanaan penilaian formatif.

Penilaian untuk belajar merupakan model penilaian yang lebih memihak pada membantu siswa untuk lebih memahami dan menguasai materi pelajaran yang diberikan, dengan memberi kesempatan pada siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri.

Penilaian untuk belajar merupakan penilaian yang terintegrasi secara terus menerus selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktivitas siswa akan dipantau dan diamati, guru menjadi pengajar sekaligus pendidik. Guru harus dapat menjadikan penilaian sebagai sarana untuk memotivasi dan membantu siswa dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar mereka sendiri.

Prinsip keadilan dalam penilaian

Pada dasarnya penilaian perlu memberi kesempatan secara optimal pada setiap siswa untuk menunjukan kemampuan yang telah dimilikinya. Oleh karena itu, perlu kiranya menilai siswa secara komprehensip dari hasil pekerjaan mereka mulai dari kemampuan menulis, pamiliaritas dengan konteks masalah, membaca secara menyeluruh

Standar dalam penilaian biasanya ditulis dengan keyakinan bahwa semua siswa diharapkan untuk mengejar dan mencapai standar yang tinggi. Dalam standar, tugas-tugas penilaian harus ditetapkan dengan berbagai konteks, melibatkan para siswa dengan kepentingan dan pengalaman yang berbeda, dan tidak mengasumsi perspektif atau pengalaman dari jenis kelamin tertentu, rasial atau kelompok etnik. Prinsip kesesuaian dalam penilaian kelas harus jelas, penilaian harus adil, terbuka, dan patut mendukung semua siswa untuk memperoleh standar yang tinggi.

Penilaian juga perlu memperhatikan standar keterkaitan, menekankan pentingnya menjamin bahwa setiap penilaian sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Data hasil penilaian dapat digunakan untuk kemajuan belajar siswa, membuat keputusan instruksional, mengevaluasi prestasi, atau evaluasi program (De Lange: 1996).

Keterkaitan dalam penilain kelas dapat disempurnakan dengan sederhana jika proses balajar mengajar juga terkait dan penilaian merupakan bagian integral dari proses tersebut.

Orientasi penilaian kelas

Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, maka tampak bahwa penilaian kelas merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Hasil penilaian kelas berguna:

1. Sebagai umpan balik bagi siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga termotivasi meningkatkan dan memperbaiki hasil belajarnya.

2. Untuk memantau kemampuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remidiasi.

3. Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.

4. Sebagai masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar sedemikian rupa sehingga para siswa dapat mencapai kompetensi dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda.

5. Sebagai informasi untuk orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.

Atas dasar kegunaan hasil penilaian kelas tersebut di atas, maka ada beberapa keunggulan penilaian kelas, yaitu:

1. Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan dan memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukan apa yang dipahami dan yang mampu dikerjakan.

2. Prestasi belajar siswa terutama tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya.

3. Pengumpulan informasi dilakukan dengan berbagai cara agar gambaran kemampuan siswa dapat lebih lengkap terdeteksi.

4. Siswa tidak sekedar dilatih memilih jawaban yang tersedia, tetapi lebih dituntut mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan potensinya dalam menanggapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri.

5. Pengumpulan informasi menentukan ada tidaknya kemajuan belajar, dengan demikian siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya.

6. Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar mengajar, tetapi bisa dilaksanakan ketika proses belajar mengajar berlangsung (penilaian proses). Dengan demikian penilaian kelas mengurangi dikhotomi antara PBM dan kegiatan penilaian serta antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

7. Kegiatan penilaian karya siswa dapat dibahas guru dengan para siswa sebelum karya itu dikerjakan. Dengan demikian, siswa mengetahui patokan penilaian yang akan digunakan dan secara tidak langsung terdorong agar berusaha mencapai harapan (standar yang dituntut guru).

***

0 comments

Poskan Komentar

Jika berkenan, tinggalkan comment anda di sini!!! Terima kasih...

Terbanyak Dikunjungi