PERANAN PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN (Makalah Asesmen Pendidikan)

10 Desember, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

Penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan informasi tentang kinerja siswa, untuk digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan (Weeden, Winter, dan Broadfoot: 2002; Bott: 1996; Nitko: 1996; Mardapi: 2004).

Penilaian merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaiannya.

Menurut Mardapi, (2004), penilaian dan pembelajaran adalah dua kegiatan yang saling mendukung, upaya peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui upaya perbaikan sistem penilaian.

Sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Kualitas pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dalam memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan diperlukan perbaikan sistem penilaian yang diterapkan.

BAB II

PEMBAHASAN

Penilaian memilki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, oleh karena itu perlu dirancang dan didesain sedemikian rupa sehingga penilain tersebut memberikan makna bagi setiap orang yang terlibat didalamnya. Setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan sehingga penilaian menjadi bermakna yaitu ketika penilaian:

1. Memilki ciri secara signifikan

2. Memilki kriteria, prosedur, dan rubrik yang jelas dan dipahami oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder)

3. Memberikan hasil-hasil yang menyediakan arah/ petunjuk yang jelas untuk peningkatan kualitas pengajaran dan belajar.

A. Perlunya Standar Penilaian

Dapatkah penilaian meningkatkan standar? Jawaban singkat dari pertanyaan ini adalah ya, dapat. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara signifikan menggunakan penilaian untuk belajar (assessment for learning) lebih efektif bagi guru dalam memperbaiki kualitas pembelajaran. Penilaian juga harus berperan sebagai suatu sarana untuk meningkatkan kualitas belajar setiap siswa. Adapun suatu kejelasan dan hubungan tak terpisahkan antara penilaian, kurikulum, dan pembelajaran.

Darling Hammond (1994) berpendapat bahwa usaha untuk menaikan standar pelajaran dan prestasi harus bertolak pada perubahan strategi penilaian. Kemudian pernyataan tersebut diperkuat kembali oleh Wedeen, Winter, dan Broad Fott (2002) bahwa penggunaan penilaian dalam pembelajaran secara signifikan lebih efektif bagi guru dalam memperbaikai kualitas pembelajaran.

Agar penilaian berfungsi dengan baik, maka sangat perlu untuk meletakan standar, yang akan menjadi dasar dan pijakan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian. Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kegiatan ini, yaitu:

1. Peran guru

Sebagian besar tanggung jawab dalam menerapkan standar penilaian terletak pada tangan guru yang menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik standar yang ada, memahami pentingnya penilaian yang berkelanjutan, dan perlu mengetahui posisi strategis mereka, sehingga guru mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, laporan kemajuan dan perkembangan siswa, dan memahami cara pengajaran mereka sendiri.

Peranan guru dalam penilaian lebih efektif jika mampu memanfaatkan informasi hasil penilaian melalui umpan balik. Umpan balik merupakan sarana bagi guru dan siswa untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pembelajaran yang telah dilakukan. Seperti yang dikemukakan dalam QCA (2003) yang mengatakan bahwa feedback is the means by which teacher enable children to close the gap in order to take learning forward and improve children’s performance, berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa umpan balik merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh guru, yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.

Croks (2001) menyimpulkan dari hasil reviuw literatur tentang umpan balik dan hubungannya dengan motivasi siswa menyimpulkan bahwa manfaat umpan balik agar dapat memotivasi siswa, maka harus fokus pada:

a. Kualitas kerja anak-anak, dan bukan pada membandingkan dengan anak-anak lain.

b. Cara-cara spesifik dimana pekerjaan anak dapat ditingkatkan

c. Peningkatan pekerjaan anak harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

Dalam merencanakan dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, Clarke (2003) menyarankan 6 prinsip yaitu:

a. Umpan balik harus fokus pada tugas-tugas tujuan pembelajaran dan bukan membandingkan dengan anak yang lain.

b. Bahasa yang verbal dan non verbal dari guru, memberikan pesan yang baik pada anak tentang kemampuan mereka.

c. Penilaian setiap bagian pekerjaan mengarah pada penurunan moril bagi yang mencapai prestasi rendah dan kepuasan bagi prestasi yang tinggi.

d. Penghargaan eksternal sama seperti grades.

e. Perlu memberikan umpan balik spesifik yang fokus pada kesuksesan dan peningkatan dari pada mengoreksi.

f. Anak-anak perlu kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan mereka.

Prinsip yang dikemukakan oleh Clarke tersebut, memberikan penekanan bahwa dalam memberikan umpan balik, seorang guru harus fokus pada kualitas pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Di samping itu, guru perlu menghindari membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut dapat menurunkan dorongan, motivasi, dan minat bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.

Hargreaves, McCallum dan Gipps (Clarke, 2003) dalam penelitian tentang strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan umpan balik, menemukan dua strategi yaitu strategi approval dan disapproval. Strategi non-verbal untuk menyatakan approval meliputi guru mengangguk, kontak mata, tersenyum, tertawa, meletakan suatu lengan tangan di sekitar atau menepuk anak dan menerima suatu cara lembut untuk dapat dicapai. Sedangkan strategi non-verbal untuk menyatakan disapproval meliputi memalingkan muka, menatap dengan tajam, clicking, fingers or making disapproval noises.

Catatan akhir yang menekankan kompleksitas pemberian umpan balik didapatkan dari penelitian yang dikutip sebelumnya dalam buku ini, yang mendapati bahwa pemberian pujian saja tidak akan meningkatkan prestasi. Umpan balik yang efektif adalah yang ditujukan untuk meningkatkan prestasi, yang nantinya akan membantu rasa percaya diri. Upaya meningkatkan kepercayaan diri dan harapan bahwaini akan meningkatkan prestasi, tidak akan begitu berhasil.

Boud (1995), memberikan panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik pada siswa yaitu :

1. Realistik

2. Spesifik

3. Sensitif terhadap tujuan yang bersangkutan

4. Tepat waktu

5. Jelas

6. Tidak menghakimi

7. Tidak membanding membandingkan

8. Tekun

9. Terus terang

10. Positif

11. Hati–hati

Untuk dapat memaksimalkan peranannya guru dituntut memiliki profesional yang

tinggi. Ada lima hal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat dikatakan profesional yaitu:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya pada siswa

3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesi

Sebagai kesimpulan dari uraian yang diatas, setidaknya ada lima hal peranan dalam penilaian, yaitu guru sebagi mentor, petunjuk jalan, akuntan, reporter, dan direktur program. Kelima hal tersebut dikaitkan dengan tujuan penilaian dapat dielaborasi dalam seperti yang di rangkum pada Tabel 3.1

Tabel. 3.1.

Peranan Guru dan Tujuannya dalam penilaian

Peranan

Tujuan

Guru sebagai monitoring

Memberikan umpan balik dan bantuan kepada setiap siswa

Guru sebagai petunjuk jalan

Mengumpulkan informasi untuk diagnostik kelompok siswa melalui pekerjaan yang telah dikerjakan.

Guru sebagai akuntan

Memperbaiki dan memelihara catatan prestasi dan kemajuan siswa

Guru sebagai reporter

Melaporkan pada orang tua, siswa, dan pengurus sekolah tentang prestasi dan kemajuan siswa

Guru sebagai direktur program

Membuat keputusan dan revisi praktik pengajaran

2. Peranan Siswa

Keikutsertaan siswa di dalam proses penilaian menjadi penting apabila standar yang digunakan biasa diwujudkan untuk semua siswa. Brown (1994) menekankan unsur strategis agar senantiasa sadar akan kekuatan dan kelemahan dengan mengatakan bahwa “para siswa berhasil menjalankan yang terbaik apabila mereka memiliki pemahaman yang mendalam akan kelebihan dan kelemahan mereka sendiri dan akses dalam menyusun strategi untuk belajar”.

Mengambil bagian dalam penilaian berarti memberikan peluang kepada para siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dengan membuat rangkaian yang jelas dalam isi dan pikiran. Sehingga diharapkan mereka menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan tahapan belajar selanjutnya yang lebih baik.

Dalam suatu percobaan di dua kelas ilmu sains suatu sekolah menengah di Amerika, White dan Frederiksen (1998) melaporkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dalam kelas, dimana dikembangkan kemampuan berpikir melalui penilaian diri. Penilaian diri merupakan sarana bagi guru untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk belajar dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka kerjakan.

Rudd dan Gunstone (1993) mengidentifikasi beberapa keuntungan yang diperoleh dengan perlibatan siswa dalam proses penilaian diri yaitu:

· Mengembangkan kemampuan siswa untuk merencanakan dan berpikir menyeluruh menyangkut hasil dan ketrampilan mereka

· Menciptakan kesadaran siswa akan pentingnya menilai pekerjaan mereka sendiri

· Mengembangkan kemampuan siswa untuk saling mengevaluasi penilaian diri satu sama lain asalkan kritik membangun

· Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengatur sumber daya dan waktu secara lebih efektif.

3. Peranan sekolah

Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar-mengajar dalam proses pendidikan. Baik buruknya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Sekolah merupakan induk kegiatan pembelajaran yang secara otomatis merupakan induk kegiatan penilaian.

Sekolah sebagai suatu institusi yang menaungi semua aktivitas belajar-mengajar, memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya melakukan reformasi penilaian, yang memihak pada bagaimana para siswa dapat memperoleh nilai tambah dalam proses pendidikan.

Peran sekolah menciptakan suatu kondisi (kultur) yang kondusif sehingga kegiatan penilaian dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Peranan sekolah dalam upaya membentuk siswa menjadi manusia yang berkualitas melalui penilaian digambarkan secara gambling oleh Stenberg, (1996), yang mengatakan:

…sekolah mempengaruhi intelegensi dengan beberapa cara, yang paling terkenal yaitu dengan penyampaian informasi…

Sejalan dengan pendapat Stenberg tersebut, Wedeen Winter, dan Broadfoot, (2002), melaporkan bahwa sekolah merupakan tempat dimana para siswa diarahkan agar dapat meningkatkan kualitas belajar mereka, dengan mengatakan: “mempromosikan pembelajaran anak-anak merupakan tujuan utama sekolah. Penilaian merupakan jantung dari proses tersebut. Proses tersebut dapat menyediakan lingkup kerja dimana tujuan pendidikan dapat dibentuk dan kemudian para murid dapat ditabelkan dan dinyatakan. Hasil pemantauan tersebut dapat menghasilkan suatu dasar untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam merespon kebutuhan anak-anak. Hal tersebut menjada satu-kesatuan dari proses pendidikan, secara terus menerus menyediakan ‘feedback and feed foorward’. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disatukan secara sistematis dengan strategi dan praktik mengajar pada semua tingkat”.

B. Siswa Menjadi Pembelajar Yang Lebih Baik

Dukungan sekolah dan para guru untuk lebih memihak pada kebutuhan siswa dari pada untuk memenuhi target kurikulum akan membawa dampak pada perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Guru tidak lagi terburu-buru dengan target harus selesai tepat pada waktunya tanpa memperhatikan apakan siswa telah paham atau belum.

Guru lebih fokus bagaimana penilaian yang mereka terapkan dapat mengungkap permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi siswa mereka, dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu para siswa menjadi pembelajar yang lebih baik. Siswa akan merasa tertantang dan termotivasi untuk terus memperbaiki diri, baik memperbaiki cara dan strategi belajar maupun dalam kaitan dengan perilaku, harapan dan cita-cita mereka.

C. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik. Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994) bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu:

1. Anak yang cakap

2. Anak yang kurang cakap

Karakteristik anak yang cakap, yaitu:

- Termotivasi oleh keinginan untuk belajar

- Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif

- Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha

- Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan

- Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.

Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:

- Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja

- Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas

- Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan

- Cenderung menghindari tantangan

- Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka.

Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut, namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyebutkan bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:

1. Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut

2. Murid yang berorientasi “kinerja”

Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.

3. Keputusan yang dipelajari

D. Reformasi dalam Penilaian

Untuk dapat melakukan pembelajaran yang mengutamakan mendidik daripada mengajar yang hanya sekedar mengejar target kurikulum maka sistem penilaian yang sekarang dipraktikan perlu kiranya untuk diubah, yaitu orientasi penilaian bukan hanua sekedar membeli label nilai 10, 9, 8, atau lulus, tidak lulus, naik kelas, tinggal kelas dan sebagainya, tetapi lebih pada pengumpulan informasi yang berkaitan dengan misalnya kenapa siswa memperoleh nilai 5? Kenapa siswa malas belajar? Kenapa siswa tidak lulus? Kemudian informasi tersebut harus digunakan dan dimanfaatkan untuk memodifikasi strategi dan teknik pengajaran sesuai dangan kebutuhan nyata dari para siswa.

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk menuju kualitas pembelajaran yang baik, diperlukan sistem penilaian yang baik pula. Agar penilaian dapat berfungsi dengan baik, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka sangat perlu untuk menetapkan standar penilaian yang akan menjadi dasar dan acuan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perlu kerjasama yang baik dari beberapa pihak terkait, seperti guru, siswa dan sekolah. Ketiga pihak tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda sesuai dengan proporsi masing-masing. Jika masing-masing pihak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya maka akan tercipta suatu suasana yang kondusif, dinamis, dan terarah untuk perbaikan kualitas pembelajaran melalui perbaikan sistem penilaian.

***

3 komentar

Poskan Komentar

Jika berkenan, tinggalkan comment anda di sini!!! Terima kasih...

Terbanyak Dikunjungi