Mahasiswa Berasrama Perlu Tinggal di Kost ???
14 July, 2009
BORNEO CB CLUB (Asrama Mahasiswa Kalimantan) di Yogyakarta
18 June, 2009
hingga sekarang dah ada 7 buah motor
mayoritas motor CB 100 taon 70-an
1 vespa, yg keren abiz tu
skrg dah dicat ijo
rencana akan bentuk club motor sendiri
nama yg dipilih adalah BORNEO CB CLUB
katanya sih nanti mo diangkut ke kalbar semuanya
ada 4 dari Melawi, 2 dari Ketapang n 1 dari Landak
Keceriaan menyambut HUT RI (mahasiswa PGSD Kalbar)
23 May, 2009
Perayaan 17 Agustus versi Asrama UPP 1 (asramanya anak Kalbar)


Mahasiswa Berasrama depan kamera
ne calong guru SD lho
culun banget sih
apalagi yg kedua dr kanan
kwkwkwkkwkwkw



Baca Selengkapnya...
Foto" Tamasya Mahasiswa PGSD Berasrama FIP UNY di Borobudur
Ne foto-foto saat pikinik ke Candi Borobudur
Silahkan anda menilai, akan seperti apakah mereka nantinya?
Tapi sebelumnya coy, ini memang kelakuan mereka saat di luar kampus.
masalah akademik,,,? jangan tanya^^^*&%&%^&%^

Baca Selengkapnya...
MULAI BERJUANG DENGAN PTK
24 March, 2009
Hari ini baru sadar kalo pembuatan proposal penelitian susahnya minta ampun. Dibayangin aja, sama dosen mata kuliah PTK dikoreksi abiz proposalnya. Padahal tu baru latar belakangnya doang. Beberapa hal yang disorot anatara lain; landasan atau rujukan normatifnya belum ada, koondisi riil akan pendidikan dan pengajaran di SD jg belum mendalam kajiannya, deskriptif pemecahan masalahnya belum mantap, dll. Diperbaiki lagi minggu berikutnya. Pusing..........pusing.
Syukur aja sih, karena jam kuliah kedua hanya ngasi tugas aja. Lucunya, dosennya lupa kalo perintah soal yang akan dikerjakan hari ini sudah dia sampaikan minggu kemaren. Jadi gx perlu repot2 ngerjakannya lagi, smalam dah dikupas abiz.
Namun kembali dibuat pusing lagi pada jam kuliah ketiga, Pembelajaran Terpadu. Betapa tidak, kita diminta melakukan praktek mengajar IPA dan menyampaikan konsep tentang adhesi dan kohesi. Benar-benar kita harus kembali lagi pada materi waktu SMP. Tapi gx pa2 deh. Namanya juga kuliah. Semangat dan semangat...
CERPE DIEM; Raihlah Kesempatan !
09 March, 2009
Dalam film yang berjudul Dead Poets Society yang kemudian dijadikan nama sebuah club (geng) pada sebuah sekolah (
Semangat yang ditunjukkan Mr. Keating dalam pengajarannya patut kita cermati. Dengan metode mengajar yang variatif, ia mampu membangun pengetahuan siswanya yang sebetulnya memang sudah ada. Siswa yang suka diam menjadi aktif. Siswa dibuatnya menjadi berani dan mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Hal tersebutlah yang kiranya menjadi harapan guru masa kini. Kehadiran guru sekiranya mampu mendobrak tembok pengajaran yang masih bersifat klasik. Ketentuan-ketentuan yang sifatnya terikat dan terpaku pada kebijakan-kebijakan pusat (kurikulum) harus diubah dan diganti dengan terobosan-terobosan baru melalui system pengajaran yang kreatif, inovatif dan kontekstual.
Pemutaran film Dead Poets Society di hadapan para mahasiswa Asrama UPP 1 telah memberikan pemahaman sekaligus inspirasi untuk memiliki gambaran akan guru yang ideal masa kini. Sebab bukan jamannya lagi seorang guru mentransferkan ilmunya secara mentah-mentah kepada siswanya, melainkan bagaimana membangun pengetahuan siswa yang sudah ada menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih pengetahuannya sebanyak mungkin dengan daya kreativitasnya adalah sesuatu yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik.
* * *
Sepak Bola Asrama Mulai Diperhitungkan
by: Papa UtaMinggu sore tanggal 30 November 2008, mahasiswa asrama UPP 1 bermaksud mengakhiri bulan november dengan cerita kemenangan. Kemenangan yang berdasarkan rencana akan diperoleh melalui pertandingan futsal melawan PLS (gx tau dari fakultas mana)dan bola kaki melawan klub asal Sleman ini diluar dugaan berakhir tragis. Futsal kalah dengan skor telak 4-2 sedangkan bola kaki sedikit beruntung karena dapat menahan seri 1-1. Nasib memang sedang sial, dua pertandingan ini berlangsung pada jam yang sama tetapi tempat yang berbeda. Dari sinilah kebingungan muncul. Tim futsal yang anggota pemainnya juga termasuk anggota pemain sepak bola, terpaksa memberangkatkan tim lapis kedua dengan hanya jumlah pemain 8 orang. Sebaliknya tim sepak bola memberangkatkan timnya dengan kekuatan penuh.
Disebut tragis bukan karena skornya tetapi suasana pertandingannya. Betapa tidak, sejak masuk lapangan pemain MELATA FC (nama klub Asrama UPP 1)langsung disoraki suporter tim lawan dengan teriakan-teriakan bernada "provokatif". Ini masih wajar dalam pertandingan baik di futsal maupun di sepak bola, khususnya lingkup suporter Indonesia. Tetapi menjadi tidak wajar ketika bentuk permainan di lapangan menjadi keras dengan permainan-permainan kasar. Kondisi inilah yang dihadapi tim futsal MELATA FC. Berdasarkan pantauan kami dan atas hasil wawancara dengan para pemain MELATA FC, permainan tim lawan benar-benar kasar ala sepak bola gajah. Mereka bukannya mengejar bola tetapi kaki lawan. Jelas tim MELATA FC tidak mampu meladeni permainan seperti ini dan tipe permainan mereka berubah dan tak mau ambil resiko. Alhasil, strategi dengan permainan kasar yang tim lawan terapkan berhasil dan mampu mengungguli tim MELATA FC dengan skor 4-2. Semakin unggul, permainan mereka makin brutal. Demikian juga dengan teriakan suporter. Para pemain MELATA FC akhirnya tidak mampu melanjutkan permainan dan menyerah dengan skor 4-2.
Tim Sepak Bola Berhasil Menahan Seri
Di tempat lain, tepatnya di lapangan Kompleks Bandara Adi Succipto, tim sepak bola MELATA FC berhasil menahan tim asal kabupaten Sleman dengan skor 1-1. Sejak kick off babak pertama dimulai, kendali permainan lansung dipegang anak-anak MELATA FC yang saat itu menggunakan kostum warna hitam (berkabung kali ya). Permainan satu dua dan dari kaki ke kaki yang menjadi ciri khas mereka serta sekali-sekali melakukan umpan terobosan, mampu merepotkan dan merusak strategi permainan anak-anak Sleman yang saat itu menggunakan kostum berwarna putih-putih. Puncaknya sekitar menit ke-25, sebuah sontekan Agon dari luar kotak penalti mampu merobek jala lawan. Skor menjadi 1-0. Tidak berhenti sampai disitu, pada menit ke-37 Dison melakukan umpan terobosan ke bagian kanan sisi pertahanan lawan dan bola dapat dikejar dengan baik oleh Imran dan terus menggiringnya sampai ke kotak penalti. Namun sontekan Imran ke pojok kanan gawang lawan dapat diantisipasi dengan baik oleh penjaga gawang dan hanya menghasilkan tendangan sudut. Skor 1-0 bertahan sampai turun minum.
Pada babak kedua, tim MELATA FC mengubah formasi 4-3-3 pada babak pertama menjadi 4-4-2 dengan menempatkan Imran sebagai striker menemani Krismanto. Kendali permainan tetap menjadi milik anak-anak MELATA FC. Tim lawan hanya sekali-sekali melakukan serangan balik. Ketika anak-anak MELATA keasikan menyerang, sebuah sodoran dari sisi kanan pertahanan tim MELATA berhasil dimanfaatkan anak-anak Sleman untuk menggiring bola dengan bebas tanpa kawalan bek-bek MELATA dan berhasil menjaringkan bola ke sudut kiri gawang. Skor berubah menjadi 1-1. Kepemimpinan wasit pada babak kedua banyak merugikan tim MELATA FC. Sebuah tarikan terhadap pemain pengganti PAUS oleh bek anak-anak Sleman yang sudah kalah dalam penguasaan bola di areal penalti dibiarkan begitu saja tanpa ada pelanggaran. Menjelang akhir babak kedua, anak-anak MELATA FC terus menggempur pertahanan lawan. Ada dua peluang manis terjadi pada menit ke-85 melalui Simson yang menggantikan Krismanto dan Yandri yang masuk menggantikan Melani. Namun kedua pemain ini tidak mampu mencceploskan bola dan hanya menghasilkan tendangan pojok. Skor tetap tidak berubah sampai pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.
Baca Selengkapnya...UANG SAKU TELAT, CAPEK DEH...
08 March, 2009
Nasi Kucing dua bungkus, cukup untuk hidup satu hari
by: p@p@ ut@
Sudah menjadi tradisi, pembagian uang saku bagi mahasiswa berasrama S1 PGSD FIP UNY selalu terlambat. Seperti biasanya, pada bulan Maret ini hampir dua minggu sudah waktu keterlambatan itu bergulir. Entah disengaja atau tidak, hal ini telah mempengaruhi pola hidup para mahasiswa yang secara keseluruhan adalah mahasiswa perantau. Demi mempertahankan hidupnya, mereka rela mengisi perutnya dengan hanya dua bungkus nasi kucing dalam satu hari. Lebih ironis lagi, mereka dapatkan nasi kucing tersebut dengan meng-utang. Sebuah indikasi yang kurang baik untuk gambaran seorang mahasiswa berikatan dinas, calon guru lagi.
Apakah pihak fakultas dalam hal ini adalah sebagai penyelenggara program mengerti kalau sebenarnya mahasiswa penerima beasiswa ini sangat bergantung pada uang saku tersebut untuk memenuhi kebutuhan bulanannya? Sebab orang tua di rumah pasti selalu berharap bahwa anaknya tidak pernah berkekurangan, sehingga sangat tidak mungkin kami harus meminta uang ke mereka lagi.
Semoga saja dalam beberapa hari ke depan uang saku segera dicairkan. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin warga asrama (khususnya UPP 1) satu demi satu akan jatuh sakit. Bagaimana bisa belajar dengan tenang jika perut keroncongan? Seharusnya mereka bisa berpikir, bagaimana jadinya jika dua minggu mereka terlambat gajian? Apa yang terjadi dengan keluarga mereka? Capek deh,,,,,,,,,,,,,,
KUTEMUKAN KEBAHAGIAAN DI PUNCAK KALIURANG
13 February, 2009
Kalau kebanyakan orang saat merayakan ulang tahun pasti menggelar aneka acara menarik seperti; potong kue, tiup lilin, dan tepuk tangan. Lain halnya dengan perayaan ulang tahunku kali ini. Bermula hendak melepaskan kelelahan setelah berperang dengan debu saat merapikan perpustakaan di SDN Condong Catur (tempal PPL kelompok 2), kami menelurusi jalan Kaliurang yang terdiri dari Lukas, Lewi, Agah, Suri, Nida dan tentunya saya sendiri. Sebetulnya masih ada empat orang lagi tapi mereka keburu pulang ke kost masing-masing.
Untuk diketahui, kelompok kami terkenal dengan kekompakkan dan saling kerjasama yang selalu dijunjung tinggi. Apa pun yang menyangkut kegiatan KKN-PPL selalu dilaksanakan secara bersama-sama. Semua itu kami laksanakan demi kelancaran KKN-PPL nanti.
Kembali ke cerita awal. Di benakku saat dalam perjalanan sempat bergumam, jika mendukung moment ini sangat tepat untuk kurayakan ulang tahun bersama teman-temanku. Tapi apa daya, uang tak punya. Sungguh menyedihkan, saat itu uang di dompet hanya tinggal dua ribu perak. Buat apaan ya tu duit. Nasib,….nasib!!! Sempat juga berpikir untuk menyembunyikan rahasia ini, sebab gak ada dari mereka yang tahu akan hari ulang tahunku jatuh pada hari itu.
Saat tiba di puncak Kaliurang, kami pun duduk di sebuah taman. Aku termenung sejenak dan berdiam diri. Tak kuasa rasanya menyembunyikan semua ini. Kuajak mereka mendekatiku dan mendengarkan kata hatiku. Teman, hari ini adalah hari bersejarah buatku. Kendati demikian, aku merasa sedih karena aku gak punya uang buat mengajak kalian makan atau minum. Hari ini aku berulang tahun. Maafkan aku!!! Kata-kataku sontak membuat mereka kaget dan terharu. Mereka memelukku sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Aku pun juga ikut terharu dengan apa yang mereka lakukan. Rasa sedih berubah jadi riang.
Tak lama berselang, aneka makanan ringan dan minuman tampak di depan mata. Dari mana datangnya? Segalanya Tuhan yang atur. Dia melimpahkan kasih-Nya padaku dan pada kami semua melalui saudara Agah. Tuhan berfirman, “mintalah berkat kepada-Ku maka Aku akan memberikan berkat kepada-Mu”. Terima kasih Tuhan, Terima kasih Agah dan Terima kasih teman-teman.
Saat dalam perjalanan pulang hujan pun turut mengguyuri tubuh kami. Dengan tanpa berbekalkan mantel atau jas hujan, kami berperang melawan hawa dingin yang menusuk tubuh. Sungguh sebuah pengalaman yang mengasikkan. Di asrama teman-teman lain telah menunggu dengan telur di tangan. Tradisi di komunitas kami memang sangat unik. Telur dicampur dengan segala macam ramuan termasuk tepung kopi akan memandikan tubuh orang yang sedang berulang tahun. Hal ini dilakukan hanya sebatas perayaan kocak aja. Tidak ada tujuan atau maksud tertentu. Semua itu kualami seharian saat aku berulang tahun.
VIRUS ZOMBIE MENYERANG WARGA ASRAMA
04 February, 2009
Oleh: Ferdy H. Pantar
Anda tiidak perlu kaget mendengar kata zombie. Zombie yang dimaksudkan disini bukan yang dalam bahasa Yunani disebut mayat hidup. Istilah Zombie bagi warga asrama PGSD UPP 1 adalah sebutan untuk penyakit mata yang selama ini telah menyerang sebagian besar warganya. Dapat dibayangkan dalam waktu satu minggu virus ini telah menyebar dan memakan korban hampir sebagian mahasiswa di asrama UPP 1 ini. Entah ada hubungannya dengan Zombie benaran atau tidak, penyakit ini memang sangat menyebalkan. Mereka yang bertampang preman sekalipun dan bahkan yang mengaku dirinya kebal penyakit tetap menjadi sasaran empuk dari virus ini.
Berawal dari rasa gatal-gatal di mata, demikianlah gejala awal dari penyakit ini. Rasa gatal tersebut sontak merangsang tangan untuk mengocoknya. Disinilah awal penyakit ini muncul. Spontan mata si penderita akan memerah dan terus mengucurkan air mata seolah-olah sedang diputus cinta. Penyakit ini sangat anti terhadap segala macam cahaya terang. Untuk mengantisipasinya penderita biasanya menggunakan kaca mata gelap alias riben. Ini dilakukan agar menghindari silau akibat cahaya dari manapun.
Berdasarkan apa yang terjadi di asrama UPP 1, penyebab tersebarnya virus ini hanya karena tatapan saja. Jadi, jika kita tidak ingin menjadi korban maka janganlah sekali-sekali menatap mata penderita. Namun rasa solidaritas penyakit mata ternyata sangat tinggi. Kendati tidak dengan menatap, ia juga dapat menyebar dengan mereka yang duduk bersebelahan dengan si penderita. Penderita penyakit mata di asrama UPP 1 telah membentuk komunitasnya dan hari demi hari anggotanya terus bertambah.
Sejarah awal tersebarnya Zombie di asrama UPP 1 adalah dari salah seorang warganya yang baru saja pulang dari Salatiga. Secara kebetulan penyakit ini sejak lama telah ada dan menyebar di sana. Sesampainya dia di asrama jalan Sukonandi, gejala-gejala awal Zombie pun mulai muncul. Moment menyebarnya ke warga asrama lainnya terjadi saat Kursus Mahir Dasar (KMD) Kepramukaan dilaksanakan sejak 24 Januari sampai 29 Januari 2009. Karena di dalam ruangan duduknya berdekatan sehingga kesempatan bagi virus yang menyebalkan ini lompat dari satu mata ke mata yang lainnya.
Sejauh ini obat yang digunakan untuk menyembuhkannya adalah daun sirih dan air kencing. Daun sirih direbus sampai mendidih. Setelah dingin mata bisa dicelupkan kedalam air sirih tersebut. Bisa juga menggunakan uap bekas didihan air saat mendidih dengan cara menengadahkan wajah kita ke uap air. Sedangkan untuk air kencing menggunakan wadah dan teteskan pada mata. Ada anjuran agar lebih mujarab, gunakan air kencing pertama saat kita bangun pagi. Semua ini telah dilakukan penderita penyakit mata di asrama yang dihuni oleh para calon guru SD ini. Hanya saja ada yang langsung sembuh tapi juga ada yang tidak mempan. Sedangkan obat lain yang sifatnya bukan tradisional juga sangat banyak. Tergantung berapa duitnya dulu. Untuk warga asrama, asal ada yang geratis deh.
Okey, bagi yang sudah sembuh selamat aja deh. Bagi yang sedang menderita, semoga cepat sembuh dan jangan jangan lupa ikut saran-saran diatas. Sedangkan bagi yang belum kena, hati-hati aja ya. Jangan senang dulu melihat penderitaan teman. Sebab penyakit ini tidak pandang bulu. Mau kamu ganteng ke, kamu kuat ke atau apapun itu, tunggu aja. He he he, pintar mengelak aja sudah cukup kali...
* * *
ASRAMA MAHASISWA UPP 1
Asramanya Para Pemuda Harapan Bangsa
Oleh: Ferdy H. Pantar
Demikianlah ungkapan yang pertama kali keluar dari mulut bapak Deni Hardianto selaku pengelola baru Asrama Mahasiswa UPP 1 FIP UNY. Ungkapan tersebut disampaikan dalam pertemuan perdana dengan para mahasiswa UPP 1 di ruang pertemuan asrama hari Jumat tanggal 30 Januari 2009. Ditemani oleh ibu Unik Ambarwati yang tak lain adalah istrinya, mereka berdua akan bersama-sama para mahasiswa membangun kembali suasana asrama menjadi yang lebih baik. Ungkapan di atas sangat tidak berlebihan. Mengingat segenap mahasiswa ini adalah utusan dan pilihan masing-masing daerah, maka selayaknyalah mereka dibimbing dan diarah untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
Dalam sambutannya beliau dan istrinya berusaha menjadikan asrama sebagai sebuah keluarga. Rasa saling percaya dan saling memahami akan mewarnai seluruh kehidupan di asrama nantinya. Ada sesuatu yang harus ditumbuhkan dalam asrama ini dan itu pasti bisa dilakukan jika kita berkomitmen sejak awal, ungkap bapak satu anak ini. Sebab dari pantauan saya di antara para mahasiswa ini terdapat pribadi-pribadi yang penuh prestasi, lanjutnya. Tujuan diadakannya pertemuan tersebut selain sebagai perkenalan juga sebagai ajang tukar informasi. Sebab banyak informasi yang diterima selama ini hanya dari orang-orang di luar asrama saja dan dirasa tidak adil jika belum mendengar langsung dari para mahasiswa sendiri.
Setelah mendengar beberapa informasi dari sebagian perwakilan mahasiswa termasuk ketua asrama, mantan Ketua BEM FIP UNY ini langsung mengambil kesimpulan bahwa sejujurnya permasalahan mendasar dari semua itu adalah KOMUNIKASI. Antara mahasiswa dan pengelola asrama harus terjalin komunikasi yang baik, bukan malah sebaliknya. Jika komunikasi terjaga dengan baik maka segala permasalahan dapat diatasi dengan baik tanpa ada yang disalahkan. Upaya baik ini mendapat sambutan baik dari segenap warga asrama UPP 1 FIP UNY. Berikut beberapa tawaran program kerja untuk dilaksanakan selama hari-hari kedepan;
1. Pengembangan Akademik:
a. Diskusi/debat/workshop
b. Bedah buku
c. Bedah atau nonton film
2. Pengembangan Bakat-Minat:
a. Olah raga
b. Kesenian (musik, tari, lukis)
c. Kerohanian
3. Pengembangan Soft-Skill:
a. Out Boand
b. Latiahan Kepemimpinan
c. Latihan Kewirausahaan
d. Pelatihan Komputer
Program-program tersebut di atas akan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan bersama dan akan disesuaikan waktunya.
Semoga program-program ini bermanfaat dan dapat mengembangkan kepribadian mahasiswa baik segi akademik, bakat-minat, maupun kemampuan interaksinya dengan sesama. Namun perlu diperhatikan juga bahwa semuanya akan sia-sia jika tanpa ada kebersamaan dan niat dari masing-masing individu untuk mau berkembang. Selamat Datang bapak-ibu Pengelola Asrama Baru. Selamat menjalankan tugasnya dan Selamat bergabung dalam Keluarga Besar Asrama Mahasiswa PGSD UPP 1 FIP UNY. Semoga segala sesuatu yang kita harapkan bersama dapat tercapai sesuai dengan harapan kita bersama.
* * *
Baca Selengkapnya...AWALNYA LELAH TAPI AKHIRNYA PUAS
By: Ferdy H. Pantar
Sepi, sunyi dan lengang. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana Asrama Mahasiswa UPP 1 jalan Sukonandi satu minggu terakhir. Maklum, selama seminggu sejak tanggal 24 Januari kemarin segenap mahasiswa sibuk dengan kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) Kepramukaan. Berangkat pukul 06.00 WIB dan pulang pukul 19.00 WIB adalah rutinitas yang mau tak mau harus dijalankan setiap mahasiswa selama kegiatan KMD berlangsung. Suasana asrama menjadi sepi, lain dari biasanya.
Sebagaimana kegiatan kursus pada umumnya, KMD kali ini mencanangkan 90 jam pelajaran dalam satu minggu (waktu satu semester dalam perkuliahan). Prinsip agar seluruh materi wajib disampaikan dalam kurun waktu satu minggu kiranya menjadi target panitia. Terserah apakah materinya tersampaikan ke peserta atau tidak, itu perkara kesekian. Peserta wajib menempuhnya. Rasa lelah, capek dan ngantuk menghiasi setiap sesi selama kegiatan KMD berlangsung. Maklum, metode pengajaran yang digunakan masih bersifat klasik yaitu metode ceramah. Diawali dengan kegiatan upacara selama kurang lebih 30 menit di luar ruangan, peserta selanjutnya mengikuti aktivitas didalam ruangan sampai pukul 18.00 WIB. Pemandangan tersebut terjadi pada hari pertama dan kedua.
Sikap cepat tanggap panitia patut diacungi jempol. Kondisi seperti pada hari pertama dan kedua sudah tidak dialami lagi pada hari-hari berikutnya. Kegiatan kepramukaan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, menggairahkan dan menarik. Kombinasi nyanyian yang menarik dan gerakan yang indah serta cara penyampaian materi yang komunikatif membuat seluruh peserta termotivasi untuk mengikuti setiap kegiatan. Kendati mata memerah (virus/penyakit yang sempat mengganggu dan menyebar ke sebagian peserta) dan ketersediaan makanan yang terlampau irit (karena tanpa sayur) tidak menyurutkan semangat peserta selama kegiatan ini.
Setiap harinya peserta dipancing dengan terpilihnya tiga orang peserta untuk menjadi Tergiat I, II dan III dan diumumkan setiap upacara pagi. Sayangnya criteria penilaian untuk ajang ini hanya dilihat dari mereka yang rajin bertanya. Sehingga sudah menjadi hal yang lumrah jika selama pertemuan peserta berebut angkat tangan untuk bertanya walaupun sebetulnya sudah paham. Kendati demikian ajang ini telah memberikan motivasi kepada peserta untuk selalu menjadi yang terbaik.
Hari yang paling ditunggu-tunggu peserta dan sesuatu yang sudah menjadi cirri khas kegiatan kepramukaan selama ini yakni penjelajahan akhirnya tiba. Rabu, 28 Januari 2009 panitia sengaja menjadikannya sebagai hari penjelajahan dalam KMD ini. Diawali dengan kegiatan mendirikan tenda pramuka, peserta diwajibkan menjalankan tugas-tugas dari setiap post dalam kegiatan Out Boand. Setelah kegiatan Out Boand selesai, penjelajahan pun dimulai. Post I, II dan III masih seputar halaman kampus UPP 2 jalan Bantul. Post IV dan seterusnya berada di luar lingkungan kampus dan mengitari wilayah barat kampus. Para peserta terlihat sangat antusias menjalankan tugas demi tugas yang diberikan panitia. Pada post XI peserta diberikan tugas untuk melewati sungai yang airnya kotor dan bau. Karena tak ingin gagal dan kalah dari kelompok lain, peserta melewati sungai tersebut dengan gagah dan penuh riang. Bahkan ada peserta yang rela melepaskan celana dan tinggal memakai celana dalam alias “kollor”. Ibu-ibu yang ikut menonton dan anak-anak SD tersontak ketawa dan malu melihat pemandangan aneh ini.
Pada upacara penutupan terpilih Terbaik I (satu) sampai X (sepuluh). Diumumkan juga peserta yang belum lulus alias tertunda. Mereka yang lulus tertunda ini lebih dikarenakan tidak ikut dalam salah satu sesi selama kursus berlangsung. Terdiri dari 8 orang peserta dan kesemuanya terkena “Virus Zombie” alias sakit mata. Panitia mengambil kebijakan bagi yang lulus tertunda untuk dapat mengulang pada gelombang II (kedua) bersama peserta putri. Tentunya hanya mengambil sesi yang sama saat ditinggalkan. Dalam sambutannya, Pembina upacara mewakili segenap pelatih mengharapkan kepada peserta yang telah lulus agar jadilah Pembina Pramuka yang berbakti dan bertanggung jawab bagi organisasi Gerakan Pramuka demi mempertahankan kemajuan NKRI. Terima kasih kaka’ pelatih, terima kasih pramuka kwarcab Bantul dan terima kasih UNY. Kami siap mengemban amanah ini. Salam Pramuka…
KURSUS MAHIR DASAR (KMD) GERAKAN PRAMUKA
Lebih Dari Sekedar Mendapatkan Sertifikat
Oleh: Ferdy H. Pantar
Gerakan Pramuka adalah gerakan kepanduan Praja Muda Karana untuk mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna membangun mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual serta fisik yang prima. Gerakan Pramuka juga merupakan suatu wadah pembinaan serta pendidikan yang bersifat menantang tapi menarik bagi anak didiknya. Sistem pendidikan dalam kepramukaan sejauh ini banyak memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan Negara karena ikut dalam meningkatkan pertumbuhan watak serta kepribadian peserta didik. Gerakan Pramuka diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan dan berkelanjutan di setiap tingkatannya, tidak hanya teori – teori melainkan juga dengan simulasi serta wide game (learning by doing) sehingga peserta langsung terlibat dalam permainan yang mengandung pendidikan.
Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sebagai salah satu fakultas yang ada di UNY melalui jurusan S1 PGSD merasa perlu untuk menyertakan gerakan Pramuka dalam program kependidikannya. Setiap mahasiswa PGSD yang akan menempuh KKN/PPL harus terlebih dahulu mengikuti Kurusus Mahir Dasar Kepramukaan. Mengingat sekolah-sekolah yang akan ditunjuk UNY sebagai tempat KKN/PPL mahasiswa PGSD adalah sekolah-sekolah di wilayah perkotaan dan hampir di semua sekolah tersebut sudah cukup berkembang gerakan kepramukaannya maka sangatlah penting untuk setiap mahasiswa memperoleh bekal demi kelancaran KKN/PPL.
Sabtu, 24 Januari 2009 bertempat di kampus UPP 2 jalan Bantul Kursus Mahir Dasar (KMD) resmi dibuka dengan upacara pembukaan. Penyelenggara kursus adalah Kwartir Cabang Bantul DIY. Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh pembina upacara (Ka Kwarcab Bantul) dan diikuti oleh para pembina dan pelatih serta seluruh mahasiswa PGSD program ikatan Dinas asal Kalimantan Barat dan Gorontalo sebagai peserta kursus. Hadir juga bapak Bambang Saptono, M.Si selaku Pembantu Dekan III FIP UNY dan bapak Drs. Afandi, S.Pd selaku penanggung jawab mahasiswa.
Pembantu Dekan III dalam sambutannya mengatakan bahwa peserta kursus adalah calon pendidik yang nantinya akan berhadapan dengan peserta didik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu dituntut untuk memiliki kemampuan “serba bisa” termasuk diantaranya adalah kemampuan dalam bidang kepramukaan. Lebih lanjut sosok yang terkenal akrab dengan para mahasiswa ini mengatakan bahwa mengikuti kursus lebih dari sekedar mendapatkan sertifikat. Oleh karena itu, selama kursus nanti mahasiswa diharapkan dengan serius mengikuti sesi demi sesi sehingga memiliki gambaran lebih tentang kepramukaan.
Penyelenggaraan kursus kali ini berlangsung selama dua gelombang. Gelombang I (pertama) dilaksanakan dari tanggal 24 Januari sampai 29 Januari 2009 dan terdiri dari peserta putra. Gelombang II (kedua) dimulai dari tanggal 31 Januari sampai 5 Februari 2009 khusus bagi peserta putri. Jumlah peserta secara keseluruhan pada gelombang I (pertama) adalah 104 orang terdiri dari 87 orang mahasiswa UPP 1 asal Kalbar dan 17 orang mahasiswa UPP 2 asal Gorontalo. Materi yang diberikan selama kursus sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kepramukaan.
* * *
Baca Selengkapnya...Asrama Dengan Sejuta Pesona
02 January, 2009
Asrama Mahasiswa UPP 1 PGSD FIP UNY
OLEH: FERDY H. PANTAR
26 November 2006 adalah tanggal dimana untuk pertama kalinya calon-calon pendidik tanah Borneo menginjakkan kakinya di Yogyakarta. Pada tanggal itu juga untuk pertama kali mereka menempati rumah baru yakni Asrama Mahasiswa UPP 1 PGSD FIP UNY. Terpampang jelas di bagian depan asrama tepat pada sebuah papan bertuliskan Asrama Mahasiswa PGSD FIP UNY. Sebuah tulisan yang mengindikasikan bahwa para penghuninya adalah calon-calon pendidik masa depan negeri ini dan di pundak merekalah masa depan pendidikan Indonesia berada. Berlebihan memang, namun begitulah adanya. Apalagi saat penyambutan, ibu Kepala Asrama ditemani beberapa pejabat fakultas saat itu berkoar-koar akan menggembleng para mahasiswa dengan sejuta program asrama sehingga akan menghasilkan produk-produk unggul baik dari segi intelektualnya, emosionalnya maupun spiritualitasnya.
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, program-program dan aturan-aturan yang terpampang jelas pada sebuah papan di pintu masuk asrama belum mendapatkan kepastian kapan diterapkannya. Para mahasiswa yang sudah sejak awal telah dibungkam dengan sejuta kata-kata bual dan aturan-aturan fiktif mulai gerah dan berontak. Selain karena kurang jelasnya kebijakan-kebijakan pimpinan asrama, aturan-aturan dan program-program, para mahasiswa juga gerah oleh karena sumpeknya tempat tinggal yang diisi dengan jumlah melebihi batas. Jika seperti ini kondisinya, kapan kita berkembang? Buat apa datang jauh-jauh ke Jogja jikalau yang didapatkan hanya sebuah pengalaman layaknya narapidana di Lembaga Permasyarakatan (dibaca: LP Sukonandi)? Lebih dari itu, model pendampingan yang diterapkan sebagaimana layaknya seorang Ibu Kepala Asrama belum dirasakan para mahasiswa. Tidak semuanya disalahkan kepadanya. Tugas ganda baik sebagai Kepala Asrama maupun sebagai Dosen memang merepotkan baginya.
Kini dua tahun telah berlalu. Sudah dua periode kepengurusan berlangsung. Pada akhirnya para mahasiswa harus bersikap lebih dewasa dan mandiri untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Mulailah menatap kedepan, apa saja yang harus aku persiapkan untuk mengemban amanah baru ketika menjadi guru SD nanti. Anjuran Ketua Asrama yang baru terpilih sungguh tepat. Janganlah lagi kita bergantung pada kebijakan dan keputusan orang lain. Mari kita menentukan sendiri nasib kita. Belajarlah apa saja yang bisa dipelajari dan mulailah membekali diri dengan sejuta pengalaman dan keterampilan. Hindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat merugikan masa depan kita. Tanah leluhur kita “BORNEO” menantikan kehebatan-kehebatan (dibaca: kompetensi) kita dalam membangun pendidikan KALBAR. Selamat Berjuang Kawan, Tetaplah Bersatu!!!
Baca Selengkapnya...AKU: HARI KEMARIN, HARI INI DAN HARI ESOK
Sebuah Refleksi Menjelang Akhir Tahun 2008
Oleh: Ferdy H. Pantar
Tinggal hitungan hari, tahun 2008 akan segera berakhir. Dengan hitungan nominal angka, kurang lebih dua tahun sudah kita melewati hari demi hari dalam perjiarahan hidup di kota ini. Sebuah jarak waktu yang cukup lama dan tergolong mapan bagi seorang pencari ilmu. Dalam waktu dua tahun itu dapat dibayangkan seberapa banyaknya ilmu yang didapatkan. Seberapa banyak pula pengalaman-pengalaman yang dirasakan sebagai bekal hidup demi masa depan yang cerah.
Sebagai mahasiswa yang kreatif, hidup dengan hanya menunggu dan mendapatkan ilmu dari bangku kuliah tidaklah cukup. Ada sebuah ungkapan di kalangan para intelektual muda; “mendapatkan IPK 3,0 sebagai mahasiswa pasif adalah biasa, tapi mendapat IPK 3,0 sebagai mahasiswa aktif adalah luar biasa”. Tentu yang dimaksud dengan pasif adalah para mahasiswa yang pergi pulang kuliah Asrama/kost-Kampus lalu makan dan tidur. Sebaliknya, yang dimaksud dengan aktif adalah segenap mahasiswa yang sehabis pulang kuliah masih harus menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan di luar kampus seperti UKM-UKM Kampus, Forum-forum Kabupaten, kegiatan-kegiatan keagamaan, dll.
Kelompok kedua tentunya menyadari kalau apa yang didapatkannya di bangku kuliah sebagian besar hanya bekal teori belaka dan akan diperdalam dengan sederet pengalaman di luar kampus. Selain itu, dengan sederet pengalaman yang didapatkan di luar kampus melalui unit-unit kegiatan diatas, akan semakin mendewasakan setiap individunya dalam bersosialisasi dengan orang lain. Saya tidak berani mengatakan kalau kelompok pertama kurang mampu bersosialisasi dengan orang lain. Namun yang perlu digarisbawahi adalah semakin majemuknya lingkungan yang dihadapi di luar, maka semakin besar pula kemampuan kita dalam bersosialisasi.
Bagaimana dengan kita? Kelompok manakah yang hendak kita pilih? Jika orentasinya mengacu pada profesi yang akan kita tekuni nanti, sangat disayangkan jika selama ini kita termasuk kelompok yang pertama. Mengingat nanti kita pasti akan berhadapan dengan masyarakat yang majemuk, tidakkah lebih baik jika dari sekarang kita mempersiapkan segala sesuatunya? Segala sesuatunya belum terlambat, apalagi yang namanya belajar. Ada banyak sekali wadah yang bisa kita sentuh di luar sana. Jangan sekali-sekali pesimis akan apa yang hendak dicapai karena bukan hasil yang diutamakan melainkan proses belajarnya. Tulisan ini bukan merupakan upaya dari saya untuk menggurui, sehingga mungkin teman-teman akan berkata kalau saya “sok-sok’an”. Kita semua sama-sama mau belajar. Belajar bukan untuk kepandaian melainkan untuk bekal hidup di masa yang akan datang.
Melalui moment Tahun Baru ini, mari kita sama-sama merefleksikan kembali akan apa yang telah kita jalani selama ini. Waktu terus berjalan dan tak pernah berhenti. Kita akan ketinggalan jauh jika kita terus menunggu dan menunggu. Biar orang berkata apa tentang kita, toh yang jalani adalah kita sendiri. Kita tahu dan sadar akan apa yang kita perbuat, baik buruknya kita yang tanggung. Kita datang jauh-jauh ke Jogja untuk belajar, apa saja. Jangan dilewatkan kesempatan emas ini. Semoga!!!
Baca Selengkapnya...Terbanyak Dikunjungi
-
Mohon maaf jika tampilannya kurang maksimal. Hal ini terjadi karena ada kesalahan teknis saat posting. 1. Banyak semut ada 215 sed...
-
1. Hewan yang memiliki sirip adalah .... a. ayam b. ikan c. kucing 2. Hewan yang t...
-
1. Surat tanah merupakan contoh .... a. koleksi b. penting c. dokumen 2. Dokumen diri yang h...
-
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH BAGI SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDR...
-
56. Bangsa Jepang pernah menguasai Indonesia selama ……….. 3,5 tahun. 57. Dalam Perang Dunia II (1939-1945), Jepang bergabung dengan ………… da...











