CACI, Sebuah Permainan Rakyat Yang Sarat Akan Nilai-Nilai Budaya

15 Maret, 2009

Oleh: Ferdy H. Pantar

Caci adalah salah satu jenis permainan rakyat yang selain heroic juga merupakan permainan yang sarat akan nilai budaya. Dikatakan heroik karena tarian tradisional ini hampir selalu merupakan pertarungan berdarah. Di daerah asal, Manggarai (sebuah kabupaten di bagian barat Pulau Flores, NTT), caci merupakan pertarungan antara dua orang pria, satu lawan satu, secara bergantian. Dalam permainan caci ada pihak yang memukul (paki) lawannya dengan menggunakan Larik (pecut) atau Cambuk. Biasanya larik terbuat dari kulit kerbau yang sudah kering. Lawan yang dipukul (ta'ang) bertahan atau menangkis dengan menggunakan Nggiling (perisai, juga terbuat dari kulit kerbau) dan Tereng/Agang (busur yang terbuat dari bambu). Memukul dilakukan secara bergantian.

Di Manggarai tarian caci yang secara bebas diartikan menguji (ketangkasan) satu lawan satu, biasanya hanya dipentaskan dalam acara khusus, seperti upacara penti/hang woja (syukuran hasil panen), penyambutan tamu kehormatan atau upacara-upacara adat lainnya, seperti paca wina (belis). Juga untuk memeriahkan pentahbisan imam dan sebagainya. Disinilah nilai-nilai budaya muncul dalam permainan caci dengan segala keunikannya. Biasanya, pertarungan caci dilakukan antar desa/kampung.

Bagi orang Manggarai, pementasan caci merupakan pesta besar dimana desa penyelenggara memotong kerbau beberapa ekor untuk makanan para peserta atau siapa pun yang menyaksikan caci. Caci mengandung makna kepahlawanan dan keperkasaan. Namun dalam caci, keperkasaan tidak harus dilakoni lewat kekerasan namun juga lewat kelembutan yang ditunjukkan dalam gerakan-gerakan yang bernuansa seni. Tarian caci diiringi bunyi gendang dan gong serta nyanyian para pendukungnya. Inilah aspek integral dalam pemaknaan orang Manggarai tentang keperkasaan.

Dalam konteks ini, show of force bukanlah aspek terpenting dalam caci. Yang ingin ditampilkan di sana adalah seni bertanding secara sehat dan sportif. Sportifitas yang tinggi antara lain ditunjukkan lewat pengendalian diri untuk tidak harus menerapkan prinsip sama rasa sama rata. Pihak yang memukul tidak harus mendapat giliran menangkis. Posisinya bisa diganti orang lain. Pihak lawan biasanya tidak memprotes. Di sini terlihat aspek lain yakni kerelaan untuk berkorban. Semuanya dihayati dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Bagian badan yang boleh dipukuli meliputi bagian pusar ke atas hingga wajah. Seorang penari caci dinyatakan kalah bila pukulan larik mengenai bagian wajah hingga luka/ berdarah. Jika ini terjadi maka penari bersangkutan harus diberhentikan. Dalam caci ini disebut beke (aib). Beke biasanya membawa malu bagi kelompok dari mana penari itu berasal dan membuat kelompok itu kalah dalam pertarungan. Luka karena caci bagi orang Manggarai merupakan kebanggaan seumur hidup. Jadi, tidak ada dendam dan marah.

Busana yang dikenakan para pemain caci sangat beragam.Biasanya terdiri dari, celana panjang kain (biasanya berwarna putih), kain songke (sarung adat Manggarai), syal atau selendang, kendik (ikat pinggang), nggorong (gerunung), ndeki (berbentuk ekor kuda dan dipasang pada punggung), kain-kain pelindung wajah dan kepala (sapu), dan mahkota (berbentuk tanduk kerbau). Sejumlah peralatan diatas memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Manggarai. Hingga kini permainan Caci masih terus digemari baik dari kalangan tua maupun muda. Sebuah harapan dari para leluhur agar permainan rakyat ini terus dipelihara dan ditanamkan pada generasi penerus sehingga tidak punah. Tentu ini menjadi tugas dan tanggung jawab generasi muda.

* * *

0 comments

Poskan Komentar

Jika berkenan, tinggalkan comment anda di sini!!! Terima kasih...

Terbanyak Dikunjungi