KONTES MEMERINTAH GAJAH

20 March, 2010

Pada suatu hari ada pegelaran sirkus berskala internasional di daerah Melawi, diadakanlah perlombaan bagi masyarakat setempat berupa sayembara “siapa yang dapat memerintahkan gajah sirkus untuk duduk dengan dua kaki dia lah yang menang. Beberapa saat setelah sayembara diumumkan, perlombaan pun dimulai. Perlombaan diikuti peserta dari berbagai negara, antara lain Amerika, Australia dan Indonesia. Seorang pemuda yang gagah dan tampan, Sebut saja Ferdy (nama samaran) dari  Amerika bermaksud untuk mencoba pertama kali.

Dengan berbagai cara, saudara Ferdy belum juga bisa menyuruh gajah untuk duduk mengangkat kedua kakinya. Kemudian tiba giliran si pemuda yang berani dan penuh percaya diri sebut saja Sholle (nama samaran) dari Australia, ia pun berusaha untuk mencoba membuat sang gajah untuk mengangkat kedua kaki, usahanya pun sia-sia. Kini tiba saatnya giliran dari Indonesia. Seorang pemuda yang gagah, berani, penuh percaya diri sebut saja Aben (nama samaran) perlahan ia mendekati sang gajah dan berbisik di telinga gajah (kalau kau gak mau sakit, baiknya turuti apa perintahku).
Gajah menggelengkan kepala, semakin marah si Aben karena gajah tidak mengindahkan perintahnya. Dengan perlahan Aben berjalan ke belakang gajah, lalu dengan kedua tangan yang besar dan keras ditangkapnya kelamin gajah, lalu seketika gajah melompat dan terangkatlah keempat kaki gajah tersebut. Dan pemenangnya pun didapat dari Indonesia Yaitu saudara Aben.

Baca Selengkapnya...

Pemuda yang mudah dicanai

Suatu hari dua orang pemuda sedang berbelanja di pasar Sebut saja si Teke dan si Tombong. Sesampainya di pasar keduanya berpisah. Pertama-tama akan dicerita tentang si Teke Di setiap ia selesai berbelanja di toko Sobat (pangilan untuk keturunan tiongha yang mempunyai toko dikalimantan barat) selalu diakhiri dengan kata “kam sia” (ucapan terima kasih). Setiap pergi ke toko sobat berikutnya juga diakhiri dengan kata “kam sia”. Si Teke pun menjadi heran padahal setiap ia beli sesuatu pasti di bayarnya.

Setelah beberapa toko dimasukinya semua jawaban sama “kam sia”. Setelah puas berbelanja dan dapat semua keperluannya, kedua sahabat pun pulang dengan manaiki kendaraan umum “bus”. Sesaat setelah perjalanan pulang, si Teke pun bercerita;
Teke                :. Eh bos, sapa si teke pada sahabatnya.
Tombong         : Ada apa bos?
Teke                : Aku heran pada sobat di pasar tadi.
Tombong         : Emang kenapa?
Teke                 : Itu lho, setiap aku habis belanja selalu di bilang mereka “kam sia” apa sih arti “kam sia?”...
Tombong          : Oh, kamu itu sudah dibilang bangsat, keparat, asu oleh sobat pasar itu...
Teke                : Ah yang benar bos?!!!!,
Tombong         : Benar!!! Jawab si Tombong mencanai si Teke.
Teke        : Waduh, berani juga sobat pasar ya!!! Aku ne ba dah tua.... (dengan logat khas kalimantannya)

Dengan perasaan yang benci, kasal, dan marah pada sobat pasar, si Teke mengajak temannya untuk kembali lagi ke pasar. Dengan maksud untuk memarahi sobat pasar, keduanya pun kembali ke pasar. Dengan penuh gagah berani si Teke berdiri di atas atap bus saat mengelilingi pasar sambil berkata;
Teke           : Hai.... semua sobat pasar dari hilir sampai ke hulu semuanya kalian Kaaaaaaaaaaaam Siiiiiiiiiiiiiaaaaaa....

Setelah meluapkan kekesalannya si Teke pun merasa lega dengan ucapanya karena telah mengata-ngatai sobat pasar. Padahal arti sebenarnya Kam Sia adalah Terimakasih.

Baca Selengkapnya...

Pemancing Yang Salah Kira.

17 March, 2010


Pada suatu hari seorang maniak mancing sebut saja Tombong pergi memancing ke sungai. Sebelumnya ia kebingunggan mencari apa yang bakalan jadi umpan pancingnya. Lalu tiba-tiba ia melihat seekor buntak inuk (belalang yang ukurannya besar, sebesar jempol kaki). Belalang itu pun ditangkap. Dengan penuh harap bakalan mendapat ikan yang besar, pancingnya pun dilepaskan ke sungai.

Beberapa saat kemudian pancing si Tombong berdesing, Strike... (sambil meniru gaya mancing mania di Trans-7) Tombong pun segera sekuat tenaga menarik pancingnya. Dengan perasaan cemas, was-was, kalau-kalau pancingnya bakalan putus cepat-cepat, ia terjun ke dalam air bermaksud menangap ikan dengan tangannya. Akan tetapi ternyata setelah diselamnya eh... rupanya bukan ikan yang didapat, melainkan belalang (umpannya) yang sedang berpegangan ke dahan pohon yang tumbang didalam air. Dengan perasaan marah dan sangat kesal belalangpun dimakan oleh si Tombong. Mampus kau... (gumamnya sambil menelan....wkwkwk).

Baca Selengkapnya...

Pikiran yang Tak masuk akal.


Ada dua bersaudara yang tinggal di desa terpencil (pedalaman Melawi). Suatu hari mereka berdua berangkat ke Pinoh (nama kota Kabupaten Melawi) dengan maksud ingin membeli pukat (jaring untuk menangkap ikan). Setelah pulang dari pinoh, keduanya ingin memasang pukat yang barusan mereka beli.

Biasanya sebelum dipasang ke sungai untuk menjaring ikan, pukat dipasang pelampung terlebih dahulu supaya tidak tengelam ke dasar sungai. Sembari bersenda gurau kedua saudara mencari ide; “apa yang cocok untuk pelampung pukat kita?” tanya si kakak. Lalu si adik pun menjawab; biar kuat dan tahan lama alangkah baiknya kita pakai kayu belian saja (kayu besi yang hanya ada di pulau Sumatra dan Kalimantan / keras, berat dan tengelam dalam air). Sang kakak pun menyetujui usulan si adik.

Setelah beberapa saat kemudian selesailah pekerjaan mereka. Dengan penuh semangat kedua saudara langsung memasang pukatnya ke sungai. Belum selesai dipasang tiba-tiba pukat mereka tengelam. Wow, ikan besarrr (gumam si kakak dalam hati). Dengan penuh semangat sang kakak langsung menyelami pukat; eh ternyata pukat mereka hanya nyangkut di rangkang (kayu yang mati dan tumbang ke sungai dan berada di dasar sungai)...wkwkwk.

Baca Selengkapnya...

Musafir Salah Sangka!!!!


Pada suatu hari yang panas, seorang musafir sebut saja (Pang Deah) berjalan dengan maksud mencari pekerjaan ke negeri seberang. Sesampainya di kebun pisang milik warga setempat, Pang Deah merasa sangat lapar. Dilihatnya ke arah pohon pisang, tak satupun pisang yang berbuah. Lama kelamaan perutnya pun semakin keroncongan.

Tiba-tiba ia melihat setumpuk benda berwarna kuning. Dengan perasaan senang ia berharap bahwa tumpukan itu adalah buah pisang yang telah jatuh ketanah. Karena sangat lapar munculah fatamorgana yang menyelimuti pikiran Pang Deah. Semakin dekat ia dengan benda tersebut semakin jelas apa yang dia lihat. Sialan... (katanya dalam hati). Ternyata benda tersebut adalah ta’i (kotoran). Ia pun pergi meninggalkan benda tersebut.

Belum jauh kaki melangkah muncul lagi pikiran tentang benda yang ia lihat tadi. Ia pun berfikir kembali, benda tadi ta’i apa pisang ya? Merasa belum yakin ia pun kembali, lalu dilihatnya benar-benar eh rupanya benaran ta’i. Ia pun berjalan lagi, semakin lama semakin keroncongan sampai-sampai perut Pang Deah berbunyi.

Setelah kurang lebih dua kilo perjalanan pikiran itu muncul lagi, ia pun berbalik arah menuju benda yang ia lihat tadi. Dengan penuh keyakinan bahwa benda itu adalah buah pisang tanpa ragu ia langsung memegang benda tersebut. Dengan suara lantang dan penuh kesal ia berkata “huuuh... apa kubilang ini ta’i. bukan buah pisang...

Baca Selengkapnya...

Si Bungkuk, Si Pincang Dan Si Mata Sipit Sebelah


Di sebuah desa hiduplah tiga orang pemuda yang selalu kompak. Ketiganya hendak menuju ke sebuah kampung. Dalam perjalanan mereka melintasi sebuah rumah yang dipakai untuk pesta pernikahan. Disana berkumpul banyak gadis cantik. Sejenak mereka terdiam. Ketiga pemuda ini berusaha menutupi kekurangannya dengan berlaku seolah pemuda gagah yang tak memiliki kekurangan satu apa pun. Ketiganya pun mencari akal.

Si bungkuk segera mengambil sebatang ranting dan menggariskannya ke tanah hingga melewati kerumunan para gadis. Selamat lah dirinya. Saat tadinya si bungkuk sedang menggariskan sebatang ranting ke tanah, si mata sipit pun menyusulnya dengan berujar; kiri....kiri..., kanan...kanan....(sambil memiringkan wajahnya seolah sedang membidik). Selamat pula lah si mata sipit melewati kerumanan itu.

Kini giliran si pincang. Otaknya berpikir keras mencari akal karena melihat kedua temannya berhasil melewati kerumunan itu. Tiba-tiba dia berjalan dan berujar; hapussss....(sambil menggesekkan kakinya yang pincang melintasi garis yang dibuat si bungkuk). Demikianlah ketiganya berhasil melewati kerumunan para gadis dan sampai ke kampung yang dituju... ha ha ha...

Baca Selengkapnya...

Tiga Sahabat Yang Tak Kehabisan Akal


Tiga orang sahabat pergi memancing. Ketiganya sedang mengidap penyakit berbeda; si kurap dengan kurapnya yang gatal, si botak dengan kepalanya yang gundul, dan si ta’i mata dengan gumpalan ta’i matanya yang keluar terus. Sesaat sebelum memancing mereka bersepakat bahwa tak boleh satu pun diantara mereka saat sedang memancing untuk mengobati penyakitnya masing-masing. Karena jika itu dilakukan, orang tersebut nanti tidak akan dibagikan hasil pancingan. Secara kebetulan mereka mendapatkan banyak sekali ikan.

Setelah hari menjelang siang, mereka bertiga pun pulang ke rumah. Saat di tengah jalan karena kepanasan, penyakit ketiganya kambuh. Kurap minta digaruk, ta’i mata minta dikeluarin, si gundul kepanasan. Ketiganya mencari akal. Pertama adalah si kurap. Dia berusaha mencari cara untuk menggaruk kepalanya. Dia bercerita tentang perburuan madu hutan bersama ayahnya. Sebelum madu diperoleh tiba-tiba ayahnya melempar sarang tawon dan seketika keduanya dikejar kawanan tawon. Antusiasnya dalam bercerita memberikan peluang baginya untuk menyentuh bagian tubuhnya yang kena kurap seolah-olah sedang mengibas kawanan tawon. Tenanglah hatinya.

Seolah tak mau kalah dengan si kurap, si ta’i mata pun bercerita. Suatu ketika dia dan ayahnya sedang berburu ke hutan. Dia melihat seekor babi di sebelah kanannya. Diarahkannya lah senjata ke arah babi. Sambil membidik sasaran, tangan si ta’i mata sekaligus membuang ta’i matanya sambil bersuara dooorr (suara letupan senjata). Seseaat kemuadian dia sadar kalau buruannya meleset dari sasarannya dan berlari ke sebelah kiri. Dengan melakukan hal yang sama dia membidik si babi dan melakukan tembakan. Kendati sasarannya kini kembali lolos, tapi si ta’i mata merasa senang karena kedua ta’i matanya keluar.

Kini giliran si botak mencari akal. Dalam perjalanan ia menemukan kubangan air dan sejenak dia tertegun merenungkan kisah kedua sahabatnya itu. Dia pun berujar; Cerita kalian benar-benar tak masuk akal...(sambil kedua tangannya menyentuh air dan memegang kepalanya). Ha ha ha....

Baca Selengkapnya...

Laporan PPL Individu S1 PGSD

02 March, 2010


Pemantapan Praktek Lapangan (PPL) dalam program S1-PGSD merupakan salah satu upaya atau program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memantapkan potensinya sebagai calon guru sekolah dasar yang professional, hal ini dilaksanakan dalam rangka menyiapkan dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas saat menempatkan diri sebagai seorang guru.
            Kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mempunyai arti yang sangat penting bagi mahasiswa S1-PGSD karna dapat meningkatkan kerjasama antar mahasiswa sehingga saling memberi dan menerima pengalaman belajar dalam memecahkan hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. 
Download selengkapnya!

Baca Selengkapnya...

REALIABILITAS


Keandalan (reliabilitas) merupakan suatu yang dibutuhkan tetapi bukan persyaratan mutlak untuk validitas instrumen. Moss (1996) membuat suatu kasus dimana keandalan bukan suatu yang dibutuhkan dalam penilaian kelas. Dalam penilaian formatif, batasan-batasan atas keandalan ditangani dengan cara yang berbeda meskipun tetap penting untuk dipertimbangkan (Wiliam & Black, 1996). Jika penilaian berlangsung sepanjang waktu, seorang guru dapat mengeluarkan informasi yang menyarankan bahwa suatu penilaian dan keputusan sebelumnya tidaklah mewakili penyelenggaraan.
Para guru bagaimanapun juga, harus tetap terbuka untuk terus menerus menantang dan meninjau ulang untuk menilai kemampuan siswa. Hasil penelitian para ahli menyatakan bahwa para guru seringkali mencari bukti yang menguatkan mengenai kemampuan mereka sendiri (Airasian, 1991) dan tidak mudah untuk memodifikasi keputusan atas prestasi setiap siswa (Goldman, 1996; Rosenbaum, 1980).

Download selengkapnya

Baca Selengkapnya...

VALIDITAS


Isu tentang validitas mengarah pada apakah alat ukur suatu penilaian mengukur atau mengungkap apa yang hendak diukur? Maka pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dimaksudkan dengan mengukur atau mengungkap? Atkin, Black, & cofey (2001) mengatakan bahwa kesahihan memiliki banyak dimensi, termasuk tiga yang akan dibahas di sini, yakni kesahihan isi (content validity), kesahihan konstruk (construct validity), dan kesahihan instruksional (instructional validity).
Kesahihan isi mengacu pada tingkatan dimana suatu peniliti mampu mengukur area isi yang diharapkan. Kesahihan konstruk mengacu pada tingkatan dimana penilaian mengukur konstruk teori atau kemampuan yang diharapkan. Terakhir, suatu penilaian menggambarkan kesahihan instruksional, apabila materi atau isi sepadan dengan apa yang benar-benar diajarkan.
A. Ciri Umum Validitas
Para ahli psikometri telah menetapkan kriteria bagi suatu alat ukur psikologis untuk dapat dinyatakan sebagai alat ukur baik dan mampu memberikan informasi yang sesuai dengan diadakannya suatu pengukuran. Kriteria itu antara lain adalah valid dan reliabel. Sifat valid dan reliabel diperlihatkan oleh tingginya  reliabilitas dan validitas hasil ukur suatu tes. Suatu alat ukur yang tidak reliabel atau tidak valid akan memberikan informasi yang keliru mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai tes itu. Apabila informasi yang keliru itu dengan sadar atau tidak digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan, maka keputusan itu tentu bukan merupakan suatu keputusan yang tepat (mengandung bias).
Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa cermat suatu alat ukur melakukan fungsi ukurnya. Misalnya, tes hanya dapat dilakukan fungsinya dengan cermat kalau ada "sesuatu" yang diukurnya. Jadi, untuk dikatakan valid, tes harus mengukur sesuatu dan melakukannya dengan cermat (Mardapi, 2004). Penekanan definisi tersebut terletak pada seberapa cermat suatu alat ukur melakukan fingsi ukurnya, sehinngga memberikan hasil ukur sesuai dengan yang hendak diukur.

Download Selengkapnya!

Baca Selengkapnya...

RUBRIK PENSKORAN


A. Pengertian Rubrik Penskoran
Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja peserta didik. Dengan adanya kriteria, penilaian yang subjektif, tidak adil dapat dihindari atau paling tidak dikurangi, guru menjadi lebih mudah menilai prestasi yang dapat dicapai peserta didik, dan peserta didik pun akan terdorong untuk mencapai prestasi sebaik-baiknya karena kriteria penilaiannya jelas. Rubrik terdiri atas dua hal yang saling berhubungan yaitu skor dan kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor itu.
Rubrik merupakan alat evaluasi yang menjelaskan kualitas pekerjaan pada skala kontinum dari sangat baik ke sangat tidak baik atau sebaliknya. Rubrik merupakan seperangkat kriteria dan skala penskoran yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi hasil kerja peserta didik. Sering rubrik dipakai untuk mengidentifikasi level atau peringkat masing-masing kriteria untuk semua level.
Rubrik penskoran merupakan suatu pekerjaan khusus ketika suatu keputusan tentang kualitas diperlukan untuk mengevaluasi aktivitas dan materi pembelajaran. Misalnya, ketika seorang guru bahasa Indonesia ingin mengevaluasi karangan siswa dalam suatu topik, maka diperlukan rubrik penskoran. Keputusan mengenai kualitas karangan siswa bergantung pada kriteria yang ditetapkan oleh masing-masing evaluator. Ada evaluator yang menekankan pada struktur bahasa, evaluator lainnya mungkin lebih tertarik dengan argumen persuasif yang ditampilkan. Untuk menghindari subjektivitas evaluator, maka perlu didefinisikan kriteria penilaian dalam bentuk rubrik penskoran.

Download selengkapnya!
Download format Powerpointnya!

Baca Selengkapnya...

PENILAIAN KINERJA


Penggunaan penilaian dengan pendekatan konvensional seperti tes tertulis (essay) dan pilihan ganda, belum dapat memberikan gambaran secara komprehensip mengenai kemampuan individu peserta didik. Oleh sebab itu, penilaian kinerja menjadi alternatif  untuk mngungkap secara utuh kemampuan individu tersebut dan sangat cocok diterapkan dalam penilaian kelas.

A. Penilaian Kinerja
                Penilaian kerja diartikan sebagai suatu proses pengumpulan data dengan cara pengamatan yang sistematik untuk membuat keputusan tentang individu yang diamatai. Dalam penilaian kinerja ada lima elemen utama yang tersirat dan tersurat pada defenisi tersebut, yaitu proses, pengumpulan data, pengamatan sistematik, intergrasi data, dan keputusan individu.
                Penilaian kinerja sangat terkait dengan teori belajar sebagai landasan psikologinya. Teori belajar fleksibilitas kognitif dari R. Spiro (Zainul, 2001) menegaskan bahwa belajar pada dasarnya merupakan sesuatu yang kompleks dan tidak terstruktur. Artinya bahwa proses belajar tidak pernah berakhir, ada proses adaptasi, dan selalu berubah. Oleh karenanya, penilaian dibutuhkan untuk menyertai seluruh kegiatan belajar dan pembelajaran.

Download selengkapnya!
Download format Powerpointnya!

Baca Selengkapnya...

ANALISIS BUTIR SOAL


Butir soal yang baik akan diperoleh melalui analisis butir soal seperti tingkat kesulitan dan daya pembeda secara teoritik dan empirik. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan pengetahuan yang cukup tentang konsep analisis butir soal, baik secara klasik maupun modern.
Analisis soal pada dasarnya terbagi menjadi dua kategori yaitu analisis soal secara kualitatif dan secara kuantitatif. Fokus dalam bab ini adalah membahas Analisis butir soal secara kuantitatif. Analisis butir soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empirik. Karakteristik internal yang dimaksud meliputi parameter butir soal tingkat kesukaran dan daya pembeda soal.
Analisis tingkat kesukaran soal artinya mengkaji soal-soal tes dari tingkat kesulitannya sehingga diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang dan sukar. Sedangkan analisis daya pembeda artinya mengkaji soal-soal tes dari segi kesanggupan tes tersebut dalam membedakan siswa yang memiliki kemampuan rendah dengan siswa yang memiliki kemampuan tinggi. 

Download selengkapnya!
Download format powerpointnya!

Baca Selengkapnya...

PENILAIAN DIRI SISWA


Penilaian diri dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri siswa karena penilai yang tahu persis tentang diri siswa adalah siswa sendiri dan siswa menjadi penilai yang terbaik atas hasil pekerjaannya sendiri.
Selama ini penilaian keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran pada umumnya dilakukan oleh guru, sedangkan siswa menjadi obyek penilaian. Sehingga informasi yang diperoleh belum menunjukkan gambaran yang sesungguhnya tentang siswa. Sebagai contoh, seorang guru memberi nilai rendah pada siswanya yang suka mengganggu temannya pada saat guru mengajar. Disini guru memberikan keputusan bukan berdasarkan kemampuan siswa itu sendiri, tetapi hanya berdasarkan perilaku siswa yang dilihat guru secara kasat mata saja, padahal guru belum mengetahui secara jelas apa atau mengapa siswa tersebut menggangu temannya.
David Boud  (1995), menulis tentang penilaian diri pada pendidikan tinggi yang membuat banyak batas yang relevan untuk sekolah, guru dan murid. Dia mulai dengan mengindikasikan sifat alami radikal yang sungguh potensial tentang isu penilaian diri. “Penilaian diri, biasanya dilukiskan sebagai teknik untuk meningkatkan pembelajaran, yang lebih transformatif, sukar dipahami dan bertolak belakang dengan pengajaran konvensional dibanding dengan biasanya yang lebih mudah untuk dikenali”.
            Dalam bab ini, guru berusaha melatih siswanya menggunakan penilaian diri.  Proses penilaian diri membantu mereka berpikir tentang cara belajar mereka sendiri dan memahaminya dengan baik.

 Download selengkapnya! 
Download format Powerpointnya!

Baca Selengkapnya...

GURU IPS HARUS CERDAS DAN KREATIF


Keterpaduan dalam pembelajaran IPS dimaksud agar pembelajaran lebih bermakna, efektif, dan efisien. Untuk mampu membelajarkan IPS di sekolah guru dituntut cerdas dan kreatif. Tanpa modal itu, mustahil tujuan pembelajaran IPS dapat diterapkan dengan baik di sekolah. Demikian ditegaskan tim pengembang IPS FISE UNY Endang Mulyani, M.Si. ketika memberikan  pelatihan pengembangan strategi pembelajaran IPS untuk guru-guru IPS di SMP N 20 Purworejo,  Jawa Tengah Sabtu-Minggu  (6-7 Februari).  Pelatihan juga menghadirkan Dr Muhsinatun Siasah M dan Supardi, M.Pd.
Di hadapan 75 guru-guru IPS se-Kabupaten Purworejo Endang menegaskan bahwa guru harus mampu melakukan rekayasa standar isi menjadi tema pembelajaran yang menunjukkan keterpaduan. “Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam Standar Isi belum menunjukkan keterpaduan pembelajaran IPS, tanpa rekayasa para guru kita hanya mengajarkan IPS secara separated” tegas Endang.
Kandidat doktor UNY ini menegaskan, kunci menyusun materi pembelajaran IPS adalah pada penentuan tema yang dekat dengan peserta didik.  Mengangkat isu masalah-masalah sosial, kenakalan remaja, pelanggaran hukum, kemiskinan, dan globalisasi merupakan contoh tema-tema IPS yang mendorong siswa mampu mengembangkan ketrampilan intelektual, emosional, dan spiritual. “kita harus mengubah image masyarakat bahwa  pembelajaran IPS menjemukan karena banyak hapalan, menjadi pembelajaran yang menarik dan menantang” tambahnya.
Endang berharap para guru mampu menggali potensi dan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik di sekitarnya. Sebagai contoh, dalam membelajarkan materi kegiatan ekonomi, terpenting bagaimana siswa responsif dan berfikir kreatif melaksanakan kegiatan ekonomi positif. Muhsinatun menjelaskan dalam mengembangkan pembelajaran terpadu dalam IPS dapat dengan model integrated dan correlated (correlated).  Model integrated merupakan pilihan ideal, karena lebih mudah mengajak siswa berfikir multidimensi. Caranya adalah dengan melihat Kompetensi Dasar-Kompetensi Dasar (KD) yang dapat ditarik menjadi tema pembelajaran. “Guru juga dapat menarik dari berbagai peristiwa dan masalah sosial untuk kemudian dicarikan KD-KD dalam Standar Isi,” tegas Muhsin.
Selain menyusun silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan pengembangan materi pembelajaran kegiatan dilanjutkan praktik peer teaching  dipandu Supardi, M.Pd.  Ia menegaskan ada beberapa kendala pelaksanaan pembelajaran terpadu dalam IPS. Selain latar belakang pendidikan guru yang berbasis keilmuan (ilmu-ilmu sosial), kendala lain adalah selama ini model pembelajaran terpadu dirasa lebih sulit oleh sebagian guru. “Memang pada awalnya kita kesulitan melaksanakan, tetapi inilah cara yang paling ideal. Kalau kita yakin dan bertekad terus, pasti bisa” tegas Supardi. (MR SPD/ls)

Baca Selengkapnya...

Contoh Silabus SD Kelas 1 sampai Kelas 6 Semester 1 dan 2

Pada bagian ini hanya menyertakan contoh-contoh silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.

Silahkan download

Baca Selengkapnya...

Terbanyak Dikunjungi